Selamat datang di Blog Mahasiswa IPB. Ini adalah postingan pertamamu. Edit atau hapus postingan ini dan mulailah menulis blog sekarang juga!

DAFTAR ISI

Daftar Isi …………………………………………………………………………………(i)

BAB I Pendahuluan …………………………………………………………..…………..1

1.1.   Latar Belakang ……………………………………………………………………1

1.2.   Perumusan Masalah ………………………………………………………………1

1.3.   Tujuan ……………………………………………………………………………2

1.4.   Manfaat …………………………………………………………………………..2

BAB II Landasan Teori …………………………………………………………………..3

2.1.   Pengertian Pendidikan ……………………………………………………………3

2.2.   Pengertian Mutu Pendidikan ……………………………………………………..3

BAB III Metode Penelitian ………………………..……………………………………..4

1.

2.

3.

3.1. Jenis dan Sumber Data……………………………………………………………4

3.2. Analisis Data……………………………………………………………………..4

BAB IV Pembahasan ……………………………………………………………….……5

1.

2.

3.

4.

4.1. Penyebab Rendahnya Mutu Pendidikan di Indonesia……………………………5

4.2. Solusi Untuk Meningkatkan Kualitas dan Mutu Pendidikan di Indonesia………6

BAB V Penutup ………………………………………………………………….………7

1

2

3

4

5

5.1  Kesimpulan ………………………………………………………………..………7

5.2  Saran ……………………………………………………………………..……….7

Daftar Pustaka ………………………………………………………………….…………9

(i)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Peningkatan mutu pendidikan dirasakan sebagai suatu kebutuhan bangsa yang ingin maju. Dengan keyakinan, bahwa pendidikan yang bermutu dapat menunjang pembangunan di segala bidang. Oleh karena itu, pendidikan perlu mendapat perhatian yang besar agar kita dapat mengejar ketinggalan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang mutlak kita perlukan untuk mempererat pembangunan dewasa ini. Karena itu, pendidikan yang bermutu perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah.

Ketertinggalan didalam mutu pendidikan adalah hal yang kita rasakan sekarang ini, baik pendidikan formal maupun informal. Pendidikan memang telah menjadi penopang dalam peningkatan sumber daya manusia Indonesia untuk pembangunan bangsa.

Nampak jelas bahwa masalah yang serius dalam peningkatan mutu pendidikan di Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan di berbagai jenjang pendidikan, baik pendidikan formal maupun informal. Hal itulah yang menyebabkan rendahnya mutu pendidikan yang menghambat penyediaan sumber daya manusia yang mempunyai keterampilan dan keahlian untuk memenuhi pembangunan bangsa di berbagai bidang.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas, maka yang menjadi rumusan masalahnya adalah:

1. Apa yang menjadi penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia?

2. Bagaimana solusi untuk meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan di Indonesia?

1

1.3 Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan karya tulis ini adalah:

1.  Mengetahui apa saja yang menjadi penyebab rendahnya mutu pendidikan

2. Mengetahui bagaimana solusi untuk meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan di Indonesia

1.4 Manfaat Penulisan

Adapun manfaat penulisan makalah ini :

1. Bagi Pemerintah

Bisa dijadikan sebagai sumbangsih dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.
2. Bagi Guru

Bisa dijadikan sebagai acuan mengajar agar para peserta didiknya dapat berprestasi lebih baik dimasa yang akan dating.

3. Bagi Mahasiswa

Bisa dijadikan sebagai bahan kajian belajar dalam rangka meningkatkan prestasi diri pada khususnya dan meningkatkan kualitas pendidikan pada umumnya.

2

BAB II

LANDASAN TEORI

Pada landasan teori akan diterangkan teori-teori yang berhubungan dengan judul penulisan ini :

2.1 Pengertian Pendidikan

Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan pelatihan bagi peranannya di masa yang akan datang (UUR.I. No. 2 Tahun 1989, Bab I, Pasal I).

2. 2 Pengertian Mutu Pendidikan

Secara umum adalah gambaran dan karakteristik menyeluruh dari barang atau jasa yang menunjukkan kemampuannya dalam memuaskan kebutuhan yang diharapkan atau yang tersirat. Proses Pendidikan merupakan berubahnya sesuatu menjadi sesuatu yang lain, dalam konteks pendidikan pengertian mutu mencakup input, proses, dan output pendidikan.

Input pendidikan adalah segala sesuatu yang harus tersedia karena dibutuhkan untuk berlangsungnya suatu proses. Sesuatu yang dimaksud berupa sumberdaya dan perangkat lunak serta harapan-harapan sebagai pemandu bagi berlangsungnya proses. Input sumber daya meliputi sumberdaya manusia dan sumberdaya selebihnya (modal dan teknologi)

.

Output pendidikan adalah merupakan kinerja sekolah. Kinerja sekolah adalah prestasi sekolah yang dihasilkan dari proses atau perilaku sekolah. Kinerja sekolah dapat diukur dari kualitasnya, efektivitasnya, produktivitasnya, efesiensinya, inovasinya, kualitas kehidupan kerjanya dan moral kerjanya.

3

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis dan Sumber Data

Data yang dipergunakan sebagai bahan analisis berupa data kualitatif dan data sekunder  yang dikumpulkan dari berbagai sumber seperti buku dan internet.

3.2 Analisis Data

Data Pendidikan di Indonesia pada tahun 2008


Pembangunan pendidikan di Indonesia telah menunjukkan keberhasilan yang cukup besar. Wajib Belajar 6 tahun, yang didukung pembangunan infrastruktur sekolah dan diteruskan dengan Wajib Belajar 9 tahun adalah program sektor pendidikan yang diakui cukup sukses. Hal ini terlihat dari meningkatnya partisipasi sekolah dasar dari 41 persen pada tahun 1968 menjadi 94 persen pada tahun 1996, sedangkan partisipasi sekolah tingkat SMP meningkat dari 62 persen tahun 1993 menjadi 80 persen tahun 2002 (Oey-Gardiner, 2003).

4

BAB IV

PEMBAHASAN

4.1 Penyebab Rendahnya Mutu Pendidikan di Indonesia

Penyebab rendahnya mutu pendidikan secara umum antara lain :

  • Efektivitas Pendidikan di Indonesia

Pendidikan yang efektif adalah suatu pendidikan yang memungkinkan peserta didik untuk dapat belajar dengan mudah, menyenangkan dan dapat tercapai tujuan sesuai dengan apa yang diharapkan. Dengan demikian, pendidik dituntut untuk dapat meningkatkan keefektifan pembelajaran agar pembelajaran tersebut dapat berguna.

  • Efisiensi Pengajaran di Indonesia

Efisien adalah bagaimana menghasilkan efektifitas dari suatu tujuan dengan proses yang lebih ‘murah’. Beberapa masalah efisiensi pengajaran di Indonesia adalah mahalnya biaya pendidikan, lamanya waktu yang digunakan dalam proses pendidikan. Mutu pengajar di banyak hal lain yang menyebabkan kurang efisiennya proses pendidikan di Indonesia yang juga berpengaruh dalam peningkatan sumber daya manusia yang lebih baik.

  • Standarisasi Pendidikan di Indonesia

Dunia pendidikan terus berubah. Kompetensi yang dibutuhkan oleh masyarakat terus menerus berubah apalagi didalam dunia terbuka yaitu didalam dunia modern dalam era globalisasi. Kompetensi-kompetensi yang harus dimiliki oleh seseorang dalam lembaga pendidikan haruslah memenuhi standar yang dibentuk oleh Badan Standarisasi Nasional Pendidikan (BSNP).

Adapun permasalahan khusus dalam dunia pendidikan antara lain :

  • Rendahnya sarana fisik
  • Rendahnya kualitas guru
  • Rendahnya kesejahteraan guru
  • Rendahnya prestasi siswa

5

  • Rendahnya kesempatan pemerataan pendidikan
  • Rendahnya relevansi dengan kebutuhan
  • Mahalnya biaya pendidikan

4.2 Solusi Untuk Meningkatkan Kualitas dan Mutu Pendidikan di Indonesia

Untuk mengatasi masalah-masalah di atas, secara garis besar ada dua solusi yang dapat diberikan yaitu:

  • Solusi sistemik, yakni solusi dengan mengubah sistem-sistem sosial yang berkaitan dengan system pendidikan. Seperti diketahui sistem pendidikan sangat berkaitan dengan system ekonomi yang diterapkan. System pendidikan di Indonesia sekarang ini, diterapkan dalam konteks sistem ekonomi kapitalisme yang berprinsip antara lain meminimalkan peran dan tanggung jawab negara dalam urusan publik, termasuk pendanaan pendidikan, maka solusi untuk masalah-masalah yang ada, khususnya yang menyangkut perihal pembiayaan ‘seperti rendahnya sarana fisik, kesejahteraan guru, dan mahalnya biaya pendidikan’ berarti menuntut perubahan sistem ekonomi yang ada. Akan sangat kurang efektif kita menerapkan sistem pendidikan Islam dalam atmosfer sistem ekonomi kapitalis yang kejam. Maka sistem kapitalisme saat ini wajib dihentikan dan diganti dengan sistem ekonomi Islam yang menggariskan bahwa pemerintah-lah yang akan menanggung segala pembiayaan pendidikan negara.
  • Solusi teknis, yakni solusi yang menyangkut hal-hal teknis yang berkait langsung dengan pendidikan. Solusi ini misalnya untuk menyelesaikan masalah kualitas guru dan prestasi siswa. Maka, solusi untuk masalah-masalah teknis dikembalikan kepada upaya-upaya praktis untuk meningkatkan kualitas sistem pendidikan. Rendahnya kualitas guru, misalnya, di samping diberi solusi peningkatan kesejahteraan, juga diberi solusi dengan membiayai guru melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, dan memberikan berbagai pelatihan untuk meningkatkan kualitas guru. Rendahnya prestasi siswa, misalnya, diberi solusi dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas materi pelajaran, meningkatkan alat-alat peraga dan sarana-sarana pendidikan, dan sebagainya.

6

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Kualitas pendidikan di Indonesia memang masih sangat rendah bila di bandingkan dengan kualitas pendidikan di negara-nagara lain. Hal-hal yang menjadi penyebab utamanya yaitu efektifitas, efisiensi, dan standardisasi pendidikan yang masih kurang di optimalkan. Masalah-masalah lainnya yang menjadi penyebab yaitu :

(1). Rendahnya sarana fisik,
(2). Rendahnya kualitas guru,
(3). Rendahnya kesejahteraan guru,
(4). Rendahnya prestasi siswa,
(5). Rendahnya kesempatan pemerataan pendidikan,
(6). Rendahnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan,
(7). Mahalnya biaya pendidikan.

Adapun solusi yang dapat diberikan dari permasalahan di atas antara lain dengan mengubah sistem-sistem sosial yang berkaitan dengan sistem pendidikan, dan meningkatkan kualitas guru serta prestasi siswa.

5.2 Saran

Perkembangan dunia di era globalisasi ini memang banyak menuntut perubahan kesistem pendidikan nasional yang lebih baik serta mampu bersaing secara sehat dalam segala bidang. Salah satu cara yang harus di lakukan bangsa Indonesia agar tidak semakin ketinggalan dengan negara-negara lain dangan meningkatkan kualitas pendidikannya terlebih dahulu.

7

Dengan meningkatnya kualitas pendidikan berarti sumber daya manusia yang terlahir akan semakin baik mutunya dan akan mampu membawa bangsa ini bersaing secara sehat dalam segala bidang di dunia internasional.

8

DAFTAR PUSTAKA

Cece Wijaya, Djaja jajuri, A. Tabrani Rusyam. 1991. Upaya Pembaharuan dalam Bidang

Pendidikan dan Pengajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Idris, Zahara.1981. Dasar-Dasar Kependidikan. Padang: Angkasa Raya

http://www.datastatistik-indonesia.com/content/view/700/700/

http://kwarta.wordpress.com/2009/01/02/data-pendidikan-indonesia-2008/

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga laporan turun lapang Sosiologi Pedesaan ini dapat dibuat dan diselesaikan dengan baik. Laporan turun lapang ini merupakan hasil kerjasama dari semua pihak. Pada kesempatan ini, penyusun ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

  1. Bapak Soeryo Adiwibowo selaku ketua Departemen Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat
  2. Dr.Ir. Lala M. Kolopaking, Msi dan  Dr. Nurmala K. Panjaitan, MS,DEA selaku dosen mata kuliah Sosiologi Pedesaan
  3. Bapak M.Iqbal Banna dan Bapak Sofyan Sjaf  selaku asisten dosen Sosiologi Pedesaan yang telah memberikan pengarahan, bimbingan dan saran dalam penyusunan laporan turun lapang ini
  4. Titania Aulia dan Hendra Purwa selaku asisten praktikum Sosiologi Pedesaan
  5. Kepala Desa Gunung malang beserta segenap jajarannya serta masyarakat Kampung Cikareo, Desa Gunung malang, Kecamatan Tenjolaya yang telah membantu penyusun dalam melaksanakan turun lapang ini

Kami menyadari bahwa laporan hasil turun lapang ini masih sangat jauh dari kesempurnaan dan masih banyak kekurangannya, namun besar harapan semoga laporan turun lapang ini bermanfaat bagi semua pihak.

Bogor, Januari 2010

Penyusun

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Negara Indonesia merupakan negara agraris, kebanyakan penduduk Indonesia bermatapencaharian sebagai petani. Namun, dengan seiring berjalannya waktu, para petani dewasa ini sudah semakin berkurang. Berkurangnya petani ini salah satunya dikarenakan berkurangnya para angkatan muda yang tak lain adalah harapan mereka. Selain itu juga banyak petani yang berharap anaknya tidak menjadi petani seperti ini hal ini dikarenakan mereka masih beranggapan bahwa profesi sebagai petani tidak terhormat dibandingkan sebagai seorang wiraswasta ataupun buruh. Padahal sebenarnya tidak seperti itu dapat kita bayangkan apabila tanpa petani apa jadinya hidup kita karena sebagai negara agraris kita memiliki sumber daya alam yang sangat melimpah terutama dalam sektor pertaniannya, walaupun kenyataannya masyaraket kita banyak yang memandang sebelah mata tentang profesi petani. Mereka beranggapan petani identik dengan kebodohan dan kelatarbelakangan. Tidak hanya itu pemerintah pun menganggap petani sebagai masyarakat yang terbelakang hal ini dapat dibuktikan dengan beberapa contoh yang faktanya terjadi yaitu pembodohan pada petani dan penindasan pada petani.

Banyak macam bentuk-bentuk ketertindasan petani. Pertama, petani tidak memiliki daya tawar sedikitpun terhadap hasil pertaniannya. Setiap kali ada hasil panen, petani mengalami kerugian karena harga langsung anjlok. Seakan-akan mekanisme pasar betul-betul menghukum para petani. Hukum pasar yang berbunyi ”ketika jumlah barang meningkat maka harga akan turun” benar-benar merupakan contoh nyata betapa kejamnya kita, manusia yang tidak ”mengatasi” hukum itu. Tidak ada kebijakan untuk hal ini. Sekalipun ada semua adalah dalam nuansa eksploitasi kelemahan petani.

Hal ini masih belum termasuk adanya kehidupan angkatan muda pada suatu desa yang dianggap dapat meneruskan pertanian mereka malah lebih tergiur dengan pergi ke kota meninggalkan desanya untuk bekerja karna banyak dari mereka yang kehidupannya telah berkiblat ke kota. Menurut mereka kota adalah great tradition dimana di kotalah semua perputaran uang terjadi dan di kota lebih banyak lowongan kerja yang menurut mereka akan membuat mereka mendapatkan uang lebih banyak sehingga dapat mengangkat perekonomian keluarga mereka. Setelah mereka mendapatkan uang yang cukup banyak mereka enggan untuk balik ke desanya apalagi untuk bertani apalagi memperbaiki pertaniannya. Sehingga di desa banyak petani yang umurnya sudah tua masih pergi ke sawah yang seharusnya mereka tidak pergi lagi ke sawah karena dapat digantikan anak mereka.

1.2 Rumusan Masalah

  1. Bagaimana kondisi pertanian di desa Cikareo?
  2. Apa saja peranan angkatan muda didalam pertanian padi sawah?
  3. Bagaimana dampak peranan angkatan muda pada pertanian padi sawah?

1.3 Tujuan Penelitian

  1. Mengetahui kondisi pertanian padi sawah di desa Cikareo
  2. Mengetahui peranan angkatan muda didalam pertanian pedi sawah
  3. Mengetahui dampak peranan angkatan muda pada pertanian padi sawah

1.4 Manfaat Penelitian

  1. Bagi kalangan civitas akademika, hasil penelitian ini diharapkan dapat

menjadi referensi bagi peneliti yang akan melakukan penelitian sejenis

  1. Bagi masyarakat setempat, dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat memperoleh gambaran peranan remaja didalam memajukan pertanian di kampungnya
  2. Bagi pemerintah, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan didalam membuat kebijakan-kebijakan yang tepat dalam memajukan pertanian di desa

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Menurut wikipedia bahasa Indonesia petani adalah seseorang yang bergerak di bidang bisnis pertanian utamanya dengan cara melakukan pengelolaan tanah dengan tujuan untuk menumbuhkan dan memelihara tanaman, dengan harapan untuk memperoleh hasil dari tanaman tersebut untuk digunakan sendiri ataupun menjualnya kepada orang lain. Mereka juga dapat menyediakan bahan mentah bagi industri, seperti serealia untuk minuman beralkohol, buah untuk jus dan wol untuk membuat pakaian.

Secara umum pengertian dari pertanian adalah suatu kegiatan manusia yang termasuk di dalamnya yaitu bercocok tanam, peternakan, perikanan dan juga kehutanan. Sebagian besar mata pencaharian masyarakat di Negeri Indonesia adalah sebagai petani, sehingga sektor pertanian sangat penting untuk dikembangkan di negara kita.(anonymous,2009)

Pengertian Peranan dalam Kamus Bahasa Indonesia adalah suatu yang mewujudkan bagian yang memegang pimpinan terutama dalam terjadinya suatu hal atau peristiwa (Poerwadarminta, 1976).

Peranan dalam pengertian Sosiologi adalah perilaku atau tugas yang diharapkan dilaksanakan seseorang berdasarkan kedudukan atau status yang dimilikinya. Dengan lain perkataan, peranan ialah pengejawantahan jabatan atau kedudukan seseorang dalam hubungannya dengan sesama manusia dalam suatu masyarakat atau organisasi.

Desa merupakan suatu wilayah yang ditempati oleh sejumlah penduduk sebagai kesatuan masyarakat termasuk di dalam nya kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai organisasi pemerintahan terendah langsung di bawah camat dan berhak menyelenggarakan rumah tangga nya sendiri dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (C.S. Kansil).

Menurut Wikipedia Remaja  desa adalah individu di suatu desa yang sedang berada pada masa peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa dan ditandai dengan perkembangan yang sangat cepat dari aspek fisik, psikis dan sosial yang berada dalam lingkungan desa.

Golongan pemuda atau pemudi adalah orang muda yang mempunyai cita-cita tingi dan gaya hidup yang masih kuat. Mereka harus diberikan suatu tujuan mulia yang dapat mengisi otak dan hati mereka dan mereka harus diberikan suatu lapangan untuk menyalurkan gaya hidup mereka berupa aktivitas-aktivitas konstruktif. (kumpulan bacaan sosiologi pedesaan,lembaga penelitian sosiologi pedesaan, 1978, hal :123 judul bacaan       ORGANISASI SOSIAL).

BAB III

METODOLOGI KAJIAN

3.1 Lokasi dan Waktu Observasi

Pemilihan lokasi turun lapang dilakukan secara purposif, artinya lokasi turun lapang dipilih secara sengaja berdasarkan kesesuaian  kondisi lokasi dengan tema yang kita angkat dan dibantu oleh Serikat Petani Indonesia (SPI) yaitu di wilayah Kampung Cikareo, Desa Gunung Malang, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor. Alasan pemilihan lokasi tersebut karena diwilayah Kampung Cikareo angkatan muda sudah cukup berperan dalam pertanian padi sawah.

Turun lapang ini dilakukan selama tiga hari dua malam yaitu pada tanggal 18-20 Desember 2009.

3.2 Teknik Pengumpulan Data

Adapun teknik yang dilakukan dalam pengumpulan data adalah :

  1. Wawancara responden
  2. Wawancara informan
    1. Pendekatan terhadap sumber informasi secara mendalam dan mengemukakan hal yang tidak terduga
    2. Pengamatan langsung

Pada penelitian kami menggunakan triangulasi metodologi untuk menggali data mengenai peran angkatan muda dalam memajukan pertanian padi sawah. Triangulasi metodologi yang digunakan adalah kombinasi dari teknik pengumpulan data dengan menggunakan metode wawancara mendalam, pengamatan berperan serta, dan kajian literatur.

Data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui pengamatan langsung di lapangan dan juga melalui wawancara yang mendalam dengan para responden dan informan. Untuk data sekunder, diperoleh melalui literatur-literatur serta catatan-catatan instansi yang terkait serta pihak-pihak lainnya yang dapat mendukung kelengkpaan informasi yang dibutuhkan. Data sekunder juga diperoleh melalui dari berbagai pustaka yang dapat digunakan untuk berbagai teori yang ada untuk menganalisis fenomena yang timbul.

3.3 Teknik Analisis Data

Teknik analisis menggunakan data yang diperoleh dari responden dan informan, selanjutnya dicatat dalam catatan harian. Selain itu, penelitian juga direkam melalui pengamatan langsung dan wawancara mendalam. Dokumentasi juga kita gunakan sebagai data penunjang untuk penelitian.

Pada saat penelitian berjalan kami juga melakukan analisis data yang didapat. Bermula dari data kasar yang kami dapat, penelitian lebih lanjut dilakukan dengan penggolongan data, memilih data yang akurat, dan menajamkan semua data-data ataupun argumen dengan fakta-fakta yang empiris. Semua kegiatan ini berlangsung sejak pengumpulan data sampai dengan penyusunan laporan.

Penyajian data yang akan kami gunakan berupa teks naratif dan lampiran-lampiran yang akan menggambarkan karakteristik angkatan muda pada Kampung Cikareo ini dan pemaknaan mengenai peran mereka dalam pertanian padi sawah. Data ini kemudian menjadi bahan kami untuk menulis laporan dan pemaparan hasil penelitian. Kami juga melakukan penyempurnaan pembahasan yang disesuaikan dengan keadaan di lapangan. Tujuan penyempurnaan ini untuk membantu kami menarik suatu kesimpulan yang akan mengarahkan kami pada pengambilan kesimpulan berikutnya. Kesimpulan-kesimpulan juga diperbaharui selama penelitian berlangsung dengan cara memikir ulang selama penulisan dan tinjauan ulang pada catatan lapangan.

3.4 Kerangka Berpikir

Turun lapang ini dilakukan untuk melihat peran angkatan muda di dalam pertanian padi sawah di Kampung Cikareo, Desa Gunung Malang, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar kondisi pertanian dan minat angkatan muda dalam pertanian padi sawah.

Kami memahami persepsi remaja terhadap pertanian dengan memfokuskan pada dua aspek yang mempengaruhi cara pandang mereka yaitu sosial dan ekonomi. Aspek ekonomi didasari oleh kondisi perekonomian keluarga yang menurut mereka kurang tercukupi dengan hanya menjadi petani, sedangkan aspek sosial didasari oleh pengaruh modernisasi yang mempengaruhi pola pikir mereka bahwa bertani merupakan pekerjaan yang rendah sehingga mereka malu melakukan pekerjaan itu. Padahal merekalah pahlawan di bidang pangan, yang menjadi aktor utama tersedianya beragam bahan pangan.

BAB IV

KONTEKS DAERAH PENELITIAN

4.1 Sejarah Desa

Kampung Cikareo terletak di Desa Gunung Malang, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor. Semua kampung di Desa Gunung Malang diawali dengan awalan “ci” yang dalam bahasa Indonesia berarti air. Seperti halnya Kampung Cikareo yang berasal dari “ci” dan “kareo”. Kareo merupakan hewan pemangsa ikan dan ayam. Desa ini pernah berganti nama menjadi Desa Sukamarnah, tetapi hanya bertahan beberapa tahun, kemudian berganti nama kembali menjadi Desa Cikareo.

4.2 Letak Demografi

4.2.1 Letak dan Luas Wilayah

Kampung Cikareo termasuk ke dalam Desa Gunung Malang, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor. Kampung Cikareo memiliki ketinggian 700-800 meter di atas permukaan laut. Luas secara keseluruhan untuk pemukiman sebesar dan luas untuk pertanian sebesar.

Luas kecamatan Tenjolaya 2.368 Ha dengan jumlah desa 6

4.2.2 Iklim dan Cuaca

Kampung Cikareo memiliki perbedaan suhu yang sangat mencolok antara siang hari dengan malam hari. Pada siang hari, cuaca panas dengan suhu sekitar 300 C dan pada malam hari cuaca sangat dingin dengan suhu sekitar 160 C. Hal ini disebabkan oleh letak Kampung Cikareo yang berada di daerah dataran tinggi.

4.2.3 Kondisi Tanah

Pada semua daerah memiliki bentukan asal geomorfologi dari Vulkanik yang disebabkan karena adanya letusan gunung berapi yang terletak di daerah tersebut, yakni Gunung Salak. Hal ini menyebabkan daerah pada sample tersebut cocok dan subur untuk pertanian dan perkebunan, sehingga menguntungkan bagi penduduk Kampung Cikareo khususnya para petani.

Hidrologi Kampung Cikareo

Hidrologi Kampung Cikareo berasal dari aliran sungai yang berasal dari Gunung Salak. Tingkat keasaman (pH) air sungai bersifat netral. Air sungai merupakan sumber air utama bagi masyarakat setempat dan masyarakat setempat amat bergantung pada aliran sungai tersebut. Hal ini bisa dilihat dari penggunaan air sungai untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga seperti memasak, mencuci pakaian, mencuci piring, mandi, dan irigasi pertanian. Profil sungai memiliki cirri seperti berbatu besar, alirannya tidak berkelok-kelok, arus sungai cukup deras, dan kedalaman airnya dangkal.

4.3 Kondisi Sosial

4. 3. 1 Penduduk

Pada dasarnya Kampung Cikareo terdapat berbagai macam karakteristik jumlah penduduk berdasarkan umur, antara lain golongan usia dewasa, remaja dan anak-anak. Kampung Cikareo dihuni oleh sekitar 86 kepala keluarga. Jumlah pastinya tidak diketahui karena belum ada sensus penduduk di Kampung Cikareo. Menurut data Badan Pusat Statistik pada tahun 2006, jumlah di kecamatan Tenjolaya sebanyak 53.583 jiwa, yang terdiri dari 27.567 laki-laki dan 26.016 perempuan. Kepadatan penduduk sebesar 2.140 jiwa/ km2.

4. 3. 2 Tingkat Pendidikan Masyarakat Desa Cikareo

Masyarakat di Desa Cikareo sebagian besar hanya mengenyam pendidikan sampai tingkat Sekolah Dasar (SD). Dan sisanya hanya sampai tingkat sekolah menengah. Hal ini disebabkan karena faktor ekonomi mereka yang tidak memungkinkan untuk melanjutkan sekolah lebih lanjut. Selain itu, ada yang beranggapan bahwa anak perempuan tidak harus sekolah tinggi, karena pada akhirnya perempuan pada akhirnya hanya mengurusi rumah tangga.

4.3 Kondisi Sosial

4. 3. 1 Penduduk

4. 3. 2 Tingkat Pendidikan Masyarakat Desa Cikareo

Masyarakat di Desa Cikareo sebagian besar hanya mengenyam pendidikan sampai tingkat Sekolah Dasar (SD). Dan sisanya hanya sampai tingkat sekolah menengah. Hal ini disebabkan karena faktor ekonomi mereka yang tidak memungkinkan untuk melanjutkan sekolah lebih lanjut. Selain itu, ada yang beranggapan bahwa anak perempuan tidak harus sekolah tinggi, karena pada akhirnya perempuan pada akhirnya hanya mengurusi rumah tangga.

BAB V

PEMBAHASAN

Kampung Cikareo mempunyai potensi yang besar dalam bidang pertanian jika dilihat dari letak geografisnya. Kondisi lahan di Cikareo lebih berpotensi untuk pertanian sayur mayur daripada pertanian padi sawah, maka banyak petani di Cikareo yang bertani sayur mayur, seperti caisim. Namun, tidak berarti bahwa pertanian padi sawah di Kampung Cikareo ini tidak ada, masih banyak para petani yang bertani pada sawah.

Saat ini minat angkatan muda dalam sektor pertanian semakin berkurang, mereka lebih memilih untuk pergi ke kota mencari nafkah dibandingkan mengelola lahan di desa mereka sendiri. Hal ini disebabkan oleh pola pikir angkatan muda yang menganggap bahwa di kota terjadi pusat perputaran uang sehingga dapat meningkatkan perekonomian rumah tangga mereka. Selain itu tidak adanya fasilitas pertanian yang kurang memadai juga menyebabkan berpindahnya angkatan muda ke kota.

Kurangnya minat angkatan muda juga dikarenakan oleh proses ajar yang diberikan oleh orang tua mereka yang telah terkontaminasi oleh budaya luar yang masuk ke desa. Hal ini diperkuat oleh pendapat Redfield (1960), bahwa tradisi besar (kota) akan mempengaruhi pola hidup masyarakat tradisi kecil (desa). Sebagai contoh terlihat pada kebiasaan angkatan muda desa Cikareo yang bersifat “kekotaan” seperti berpakaian yang mengikuti apa yang mereka lihat di televisi.

Tidak hanya seperti yang disebutkan diatas ada beberapa faktor lain juga yang menyebabkan kurangnya minat angkatan muda di dalam dunia pertanian padi sawah di desa Cikareo, seperti : kurangnya lahan, kurangnya modal, sarana transportasi, akses jalan dan penerangan, yang lebih memprihatinkan adalah belum adanya dukungan dari pemerintah.

Minat angkatan muda di desa Cikareo sebenarnya sangat besar, namun seperti yang telah dijelaskan di atas banyak faktor yang tidak mendukung minat mereka. Minat angkatan muda yang besar ini bisa dilihat dari adanya salah satu angkatan muda yang bernama Slamet Waluyo yang meminjam lahan di desa……. untuk tetap bertani di desa tersebut. Hal ini membuktikan bahwa masih adanya minat angkatan muda dalam pertanian di desa Cikareo, namun minat itu terhambat oleh kurangnya lahan.

Di sisi lain, ada juga angkatan muda yang lebih memilih ke kota untuk mendapatkan uang dan ketika kembali ke desa mereka cenderung lebih memprioritaskan untuk membeli handphone, motor, alat-alat elektronik daripada membeli lahan untuk mereka olah. Karena kurangnya minat angkatan muda untuk membeli lahan tersebut menyebabkan warga desa lain yang kaya membeli lahan pertanian tersebut. Sedangkan warga Kampung Cikareo hanya bekerja sebagai buruh tani di kampong mereka sendiri.

BAB VI

PENUTUP

6.1 Kesimpulan

Kondisi pertanian di kampung Cikareo sudah cukup baik disebabkan oleh letak geografis dan kondisi lahan yang memungkinkan untuk bertani, seperti jagung, ceisim, dan padi sawah. Saat ini minat angkatan muda dalam sektor pertanian sangatlah baik namun seiring dengan berkembangnya jaman, minat tersebut semakin berkurang, mereka lebih memilih untuk pergi ke kota mencari nafkah dibandingkan mengelola lahan di desa mereka sendiri. Hal ini dilatarbelakangi oleh kurangnya lahan, kurangnya modal, sarana transportasi, dan penerangan, yang lebih memprihatinkan lagi adalah belum adanya dukungan dari berbagai pihak,khususnya pemerintah agar pertanian di kampung Cikareo menjadi lebih baik dan berkembang.

6.2 Saran

Ada beberapa hal yang perlu segera dirubah untuk kemajuan pertanian kita antara lain : Mental pemerintah kita adalah pelayan masyarakat bukan atasan atau penguasa tetapi lebih kepada pemimpin yang mengayomi dan menjaga setiap urusan rakyatnya agar lebih mudah; Yang sifatnya pokok seperti pupuk,benih atau pemasaran di bidang hasil pertanian yang vital seperti kebutuhan pokok pangan maka pemerintah harus terjun langsung mengurusi rakyatnya, bukan menyerahkan ke pihak swasta yang lebih cenderung kepada pelayanan untuk mencari untung; Pemerintah harus menyediakan sarana dan prasarana secara menyeluruh untuk mempermudah dan dengan harga semurah-murahnya kepada para petani; pemerintah secara adil membagi hak kebutuhan rakyat yang fundamental tanpa memperhatikan kaya atau miskin semisal kemudahan fasilitas dan pendistribusian.

DAFTAR PUSTAKA

Soeharjo A, Soekartawi. 1986. Ilmu Usahatani dan Penelitian Untuk Pengembangan Petani Kecil. Jakarta: Universitas Indonesia.

Vries DeE. 1972. Masalah – masalah Petani Jawa. Jakarta : Bhratara

Daftar isi

BAB 1. 1

PENDAHULUAN.. 1

1.1 Latar belakang. 1

1.2 Perumusan masalah. 1

1.3 Tujuan. 2

1.4 Manfaat 2

BAB 2. 1

PEMBAHASAN.. 1

Faktor-Faktor Penyebab Remaja Merokok : 1

Pengaruh Rokok Terhadap Lingkungan : 2

Pengaruh Produksi Rokok Terhadap Lingkungan : 3

BAB 3. 1

PENUTUP. 1

  • Kesimpulan. 1
  • Saran. 1

DAFTAR PUSTAKA.. 2

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Masa remaja merupakan masa dimana seorang mengalami peralihan dari satu tahap ke tahap berikutnya dan mengalami perubahan baik emosi, tubuh, minat, dan pola perilaku (Hurlock,1998)[1]. Oleh karena itu, remaja seringkali mengalami masalah salah satunya adalah merokok.  merokok merupakan suatu pandangan yang sangat tidak asing. Perilaku merokok dilihat dari berbagai sudut pandang sangat merugikan, baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Kandungan dalam rokok seperti nikotin, karbonmonoksida, dan tar dapat mengakibatkan tekanan darah meningkat sehingga menstimulasi penyakit-penyakit yang akan berakibat buruk pada tubuh seseorang perokok maupun orang-orang yang tidak merokok. Namun kebiasaan merokok dapat memberikan kenikmatan bagi si perokok.

Beberapa hal yang dapat membuat seseorang merokok adalah untuk menghilangkan kekecewaan, menghilangkan stress dan menganggap perbuatannya tidak melanggar norma. Hal ini sejalan dengan kegiatan merokok yang dilakukan oleh remaja yang biasanya dilakukan didepan orang lain, terutama dilakukan di lingkungan sekitar.

1.2 Perumusan masalah

Berdasarkan penjelasan dari latar belakang di atas maka rumusan masalahnya adalah :

1. Faktor apa saja yang menjadi penyebab remaja merokok?

2. Pengaruh rokok terhadap lingkungan?

1.3 Tujuan

Tujuan makalah ini ialah untuk :

1. Mengetahui faktor yang menjadi penyebab remaja merokok

2. Mengeahui pengaruh rokok terhadap lingkungan

1.4 Manfaat

Manfaat yang didapat dari makalah ini adalah :

1. Bagi remaja itu sendiri, sebagai motivasi diri untuk tidak merokok agar kesehatan tetap terjaga.

2. Bagi masyarakat, dapat menciptakan suasana yang sejuk dan nyaman di lingkungan sekitar.

BAB 2

PEMBAHASAN

Faktor-Faktor Penyebab Remaja Merokok :

  • Faktor 0rangtua

Salah satu sebab mengapa remaja merokok adalah anak-anak yang berasal dari rumah tangga yang tidak bahagia, dimana orang tua tidak begitu memperhatikan anak-anaknya serta terjadinya percerain kedua orang tua mereka dan memberikan hukuman fisik yang keras lebih mudah untuk merubah seseorang remaja untuk merokok dibanding anak-anak yang berasal dari lingkungan rumah tangga yang bahagia.

  • Faktor Teman

Berbagai fakta mengungkapkan bahwa seseorang merokok maka kemungkinan besar teman-temannya adalah perokok. Dari fakta tersebut ada dua kemungkinan yang terjadi, pertama, remaja tadi terpengaruh oleh teman-temannya. Kedua,teman-teman remaja tersebut dipengaruhi oleh remaja itu sendiri yang akhirnya mereka semua menjadi perokok.

  • Faktor Kepribadian

Seseorang mencoba untuk merokok karena ingin tahu atau ingin melepaskan diri dari rasa kekecewaan, dan membebaskan diri dari kebosanan. Itulah mengapa seseorang menjadi perokok.

  • Faktor Iklan

Melihat iklan di media massa dan elektronik yang menampilkan gambaran bahwa merokok adalah lambang kejantanan, membuat remaja seringkali terpicu untuk mengikuti perilaku seperti yang ada dalam iklan tersebut.

Pengaruh Rokok Terhadap Lingkungan :

Merokok tidak hanya akan mempengaruhi kesehatan perokok, tetapi juga sangat mempengaruhi atmosfer di sekitarnya. Asap dan puntung rokok lah yang paling mempengaruhi lingkungan, udara yang dihasilkan, pencemaran air dan tanah. Bahkan proses produksi rokok juga sangat berpengaruh kepada lingkungan. Seperti dibawah ini :

  • Pencemaran Udara

Merokok dapat menyebabkan polusi udara yang diakibatkan dari asap rokok itu sendiri. Sekitar 4000 bahan kimia yang ada dalam rokok, yang dihembuskan dan dilepas dalam atmosfer. Hal ini dapat merusak atmosfer bumi yang kian menipis akibat dari asap rokok tersebut.

  • Pencemaran Tanah dan Air                                                                                            Setiap hari jutaan puntung rokok dibuang dan ditinggalkan di tanah. Ada juga puntung rokok yang akhirnya berakhir di danau dan sungai. Kemungkinan besar puntung rokok tersebut mengkontaminasi air yang dapat menyebabkan kematian pada ikan. Sisa puntung rokok di tanah akan memakan waktu sekitar 25-26 tahun untuk membusuk. Berbagai bahan tambahan dan bahan kimia yang meresap ke dalam tanah, mencemari tanah serta tanaman. Selama musim kering puntung rokok bahkan dapat menyebabkan kebakaran besar, yang tentunya sangat berbahaya bagi lingkungan.

Pengaruh Produksi Rokok Terhadap Lingkungan :

Dampak utama pada lingkungan hidup adalah saat produksi rokok berjalan. Tanah, yang digunakan untuk budidaya tanaman tembakau. Selain itu tanaman tembakau sangat rentan terhadap hama dan penyakit sehingga untuk menjaga pertumbuhan dan kesehatan digunakanlah berbagai bahan kimia dan pestisida yang berbahaya. Untuk produksi dan kemasan rokok memerlukan banyak sekali pohon sebagai bahan baku kertasnya. Yang terbaik dan cara termudah untuk mengendalikan kerusakan lingkungan ini, adalah berhenti membeli benda yang berbahaya ini (Rokok). Sangat sulit untuk berhenti merokok,  tetapi dampak langsung (kesehatan Anda) dan tidak langsung (lingkungan) akan sangat bermanfaat bagi anda sendiri dan orang lain.

BAB 3

PENUTUP

  • Kesimpulan

Kesimpulan yang diperoleh dari makalah ini adalah bahwa merokok dapat menimbulkan dampak negative yang dapat merusak kesehatan perokok itu sendiri serta dapat merugikan orang lain yang tidak merokok dari asap yang ditimbulkan oleh seseorang yang sedang merokok. Hal seperti ini perlu diperhatikan demi keindahan lingkungan agar tetap terjaga.

  • Saran

Semua masalah tersebut perlu mendapat perhatian dari berbagai pihak mengingat remaja adalah calon penerus generasi bangsa salah satunya adalah peran orangtua yang harus ditingkatkan terhadap remaja sekarang ini seperti :

  • Menanamkan pola asuh yang baik pada anak sejak balita
  • Membekali anak dengan dasar moral dan agama
  • Mengerti komunikasi yang efektif antara orangtua dan anak
    • Menjadi panutan bagi anak baik dalam perilaku maupun dalam hal menjaga lingkungan yang sehat
    • Menerapkan disiplin yang konsisten pada anak

DAFTAR PUSTAKA

Hurlock, E.B (1998). Perkembangan Anak. Alih bahasa oleh Soedjarmo & Istiwidayanti. Jakarta: Erlangga.

Atkinson (1999). Pengantar Psikologi. Jakarta: Penerbit Erlangga.


[1] E.B. Hurlock dalam buku  Perkembangan Anak tahun 1998.